Senin, 04 Mei 2015

GERETAK’ Jembatan Kayu di Atas Parit dan di Tepian Sungai Kapuas Kecil




Geretak’ awalnya merupakan istilah keseharian masyarakat Pontianak,
untuk menyebutkan jembatan yang terbuat dari kayu.
Dalam lafal penyebutan, sama halnya seperti pengistilahan  ‘Pinggan’ untuk menyatakan piring.
Sudu’ untuk menyebutkan sendok, stockin’  untuk kaos kaki. Atau surok’  untuk tapok atau sembunyi.


Dari asal mula kata, konon istilah  ‘geretak’ karena ketika berjalan melewati jembatannya akan mengeluarkan suara gemeretak. Disebabkan kayu-kayu yang bergerak dan bertemu sisi satu dengan lainnya. Cerita geretak’ ini erat kaitannya dengan keberadaan parit-parit yang dulu menjadi bagian yang tak terpisahkan di wilayah kota Pontianak.
Geretak’ dibangun di atas parit sebagai jembatan. Dibuat agak lebih tinggi dari sisi tepinya, agar di bawahnya sampan-sampan dapat lewat.  Geretak’ dalam bentuk dan fungsi seperti ini terdapat di beberapa bagian sudut kota. Kita pun mengenal adanya sebutan geretak satu, geretak dua, geretak tige, geretak putih, geretak melaka dan lainnya. 

Geretak satu berada di sisi paling utara soengai kakap weg. Posisinya sekarang berada dekat pertemuan  jalan Hasanudin dengan jalan Pa’ kasih dan jalan Koyoso. Secara fisik, keberadaannya sekarang sudah tidak ada lagi, namun di sekitaran daerah tersebut masih dikenal dengan sebutan geretak satu. Salah satunya ditandai dengan keberadaan surau al Shulhu, tak jauh dari lampu merah. Dimana pada papan nama surau kecil ini terdapat penamaan geretak satu.  Kemudian ada geretak dua, di ujung jalan merdeka sekarang. Dan geretak tige’  di parit  jawi, disisinya menjadi jalan Hasanudin dan jalan H  Rais A Rahman.
Selain itu juga kita pernah mengenal geretak putih, di jalan Agus salim. Yang pada tahun 1971 masih berdiri kokoh. Sekarang keberadaan geretak putih tersebut berada di depan ayam bakar gembira, di depannya tak seberapa jauh dari klenteng tepat di mulut jalan Antasari.  Ada juga geretak melaka, terkadang orang menyebutnya demikian, karena terletak di jalan melaka. Jalan tersebut tak seberapa jauh dari persimpangan parit besar weg (sekarang jalan di Agus salim, kapiten weg  (sekarang jalan gajah mada), de steurs weg (sekarang jalan patimura). Sekarang, diantara jalan menuju jalan gusti sulung Lelanang dengan jalan HOS Cokroaminoto. 



Pengucapan geretak’ kemudian menjadi kata, istilah yang begitu melekat di masyakarat (melayu) Pontianak. Untuk mengistilahkan jembatan yang terbuat dari kayu itu. Gemeretak… gemeretak… gemeretak… begitu kira-kira bila kita berjalan di atasnya.
Dalam pada perkembangannya, ketika banyak pendatang yang berdatangan ke kota pontianak penyebutan geretak mengalami perubahan. Banyak kemudian yang menyebutnya menjadi ‘jembatan gertak’. Padahal geretak itu adalah istilah jembatan kayu itu sendiri. Hal ini tentu juga sangat beralasan. Karena‘ arti kata dalam pengucapan beberapa masyarakat pendatang, kata ‘gertak’  dapat berarti juga ‘ngegap’ atau menghardik. Sehingga kita mengenal istilah ‘gertak sambal’ yang dapat diartikan pura-pura mengeretak, atau pura-pura ngegap. Perubahan pengistilahan itu tentu bukanlah hal yang tabu. Dan tentu berjalan seiring sejalan dengan perkembangan masyarakat. Maka kemudian sekarang ini kita pun mengenal dengan sebutan jembatan gertak untuk mengistilahkan jembatan yang terbuat dari kayu tersebut. 


Khusus untuk masyarakat di sekitaran Sungai Kapuas Kecil memiliki cerita kelanjutan tersendiri akan keberadaan geretak’ ini. Karena di tepian Sungai Kapuas Kecil juga banyak dibangun jembatan dari kayu, biasanya dari kayu belian. Uniknya adalah ia memanjang di atas tepian sungai. Berdiri kira-kira 1,5-2,5 meter di atas permukaan air sungai dengan lebar sekitar 1 meter. Jembatan kayu ini berfungsi untuk menghubungkan rumah-rumah yang terdapat disepanjang tepian sungai. Kemudian berkembang dan memanjang menghubungkan rumah, gang dan  jalan disekitaran daerah tersebut.
Fenomena perkembangan jembatan kayu  di tepian sungai kapuas mengalami perubahan yang cepat ketika terjadi booming looging di wilayah Kalimantan barat. Yang mengakibatkan abrasi pada tepian sungai. Sehingga sungai menjadi lebih lebar. Hal tersebut berpengaruh pada ruas bangunan yang awalnya masih terdapat tanah kemudian tergerus menjadi tepian sungai. Menurut cerita orang tua-tua, pernah pemerintah menyediakan kayu-kayu untuk dipergunakan seperlunya oleh masyarakat membuat jembatan kayu tersebut. Itu terjadi pada tahun-tahun 1950an akhir dan beberapa saat setelahnya.    
Kini jembatan kayu geretak’ di tepian Sungai Kapuas Kecil ini memanjang dari gang belitung di jalan Adisucipto¸ gang musa, gang teratai, gang mailamah. Seterusnya gang busri, gang mendawai, gang Bansir,  di jalan imam Bonjol. Melewati jembatan kapuas I,  daerah kelurahan Benua Melayu Laut sampai ke dekat pelabuhan Seng Hie di. Begitu pula di sisi seberangnya, geretak memanjang dari kawasan keraton memanjang sampai gang harapan, gang famili di kelurahan Tambelan. Melewati jembatan kapuas I, lalu memanjang sampai di gang karya baru dan jalan nusa karya yang masuk ke dalam kelurahan Banjar Serasan.
Geretak sepanjang Sungai Kapuas ini seyogyanya telah menjadi ciri khas Kota Pontianak yang sulit ditemukan di daerah lain. Ia selain berfungsi sebagai sarana penghubung, juga telah menjadi identitas yang turut membentuk aktifitas, sejarah, keberadaan dan budaya masyarakat Pontianak mungkin, khususnya masyarakat di tepian Sungai Kapuas Kecil. Dan  tak dapat dipungkiri lagi, geretak sepanjang Sungai Kapuas ini juga salah satu bagian aset terbesar yang di miliki kota dan masyarakat Pontianak yang dapat mendukung program pariwisata Sungai Kapuas. [dimuat di Borneo Tribune,  Selasa, 6 November 2012]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar