Selasa, 05 Mei 2015

Tugu Digulis



Tinggi menjulang beragam ukuran, berbentuk bambu runcing,
berwarna kuning dan berjumlah sebelas.
Terlihat begitu kokoh berdiri menancap di bumi.
Menandakan begitu kokoh perjuangan yang dilakukan.


Pagi menjelang siang, disekitaran tugu digulis, nampak beberapa orang dalam kelompok tengah bersiap-siap. Ada yang membentangkan spanduk, ada yang membawa bendera merah putih. Beberapa juga membawa atribut, sebagian dari mereka mengikat kepalanya dengan syal berwarna merah-putih.
Saya pun menghentikan laju sepeda yang saya kayuh. Menyandarkan sepeda di sisi barat daya dari tugu tersebut
Tak seberapa lama, seorang yang membawa pengeras suara maju kedepan. Kelompok itu bergerak, lebih mendekati bangunan tugu. Nampak begitu bersemangat. Panjang lebar ia berorasi dan ramai kelompok itu beriuh reda. Sesekali terdengar tentang kesejahteraan, reformasi, dan banyak lainnya. Ada juga beberapa kata yang  saya tangkap, tentang pemuda, sejarah, dan perjuangan.

Benak saya pun sekilas terbayang akan jejak rekam sejarah dan perjuangan yang membuat tugu ini ada. Tugu Digulis Kalimantan Barat.
Sejarah mencatat, bermula dari terbentuknya Sarikat Islam tahun 1914 di Ngabang. Kemudian pembentukkan Partai Sarikat Islam 1923. Menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah pergerakan perjuangan rakyat Kalimantan Barat.
Karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan ini. Seperti yang telah terjadi di Jawa dan Sumatera. Pemerintahan Hindia Belanda kemudian menangkap sejumlah tokohnya. Kemudian dibuang ke Boven Digul, di Papua. Dari nama tempat pembuangan penjara alam itulah, kemudian tugu ini disebut dengan Tugu Digulis.
Tiga dari meraka meninggal pada saat menjalani  pembuangan di Boven Digoel, lima dari para tokoh tersebut wafat dalam Peristiwa Mandor dan tiga orang lainnya meninggal karena sakit. Untuk menghormati dan mengenang kesebelas tokoh tersebut.
Nama-nama mereka juga diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Kota Pontianak. Kesebelas tokoh itu adalah : Moehammad Sohor, asal Ngabang ; Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang; Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel. Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang; Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang ; Gusti Moehammad Situt Machmud, asal ngabang ; Gusti Hamzah, asal Ketapang ;  Achmad Su'ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor; serta  Ya' Moehammad Sabran, asal Ngabang ; Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau; Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga.

Keberadaan Tugu Digulis sendiri tercatat mulai dibangun pada tahun 1986. Diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman, 25 tahun lalu, tepatnya  pada 10 November 1987. Awalnya berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing berukuran tinggi tertentu, dan berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, monumen ini dicat ulang dengan warna merah-putih. Kemudian, pada tahun 2006 dilakukan renovasi dan pengecatan ulang kembali, sehingga berbentuk seperti saat ini.

Berada di areal kurang lebih seluas 1779 meter persegi (dengan diameter 47,4 meter). Di sekitaran sebelas bambu runcing ini juga terdapat taman yang memberi nuansa sejuk. Dan karena berada disalah satu jalan utama kota Pontianak, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat yang sangat strategis. Maka tak jarang aksi demonstrasi, unjuk rasa juga dilakukan di kawasan ini. Secara Administratif sekarang ini masuk ke dalam wilayah Kelurahan Bangka Belitung Darat Kecamatan Pontianak Tenggara.
‘jas merah-jas merah’… sekali dua kali saya juga sempat mendengar slogan itu di antara orasi. ‘Jas merah! Jangan sesekali melupakan sejarah. Jangan sesekali melupakan sejarah’. Saya pun terenyuk dengan kata-kata itu. Bagaimana mungkin kita melupakan sejarah, bila kita belum mengetahui sejarahnya. Bagaimana kita mengetahui sejarahnya, bila kita belum mendapatkan informasi tentang sejarah itu. Keberadaan tugu Digulis ini menjadi salah satu nya. Sampai saat ini kita belum mendapat infomasi yang terpampang di sekitaran kawasan tugu. Yang secara sederhana menjelaskan latar belakang sejarah berkenaan dengan keberadaan tugu ini. Semoga perjalanan kali ini membawa manfaat. [dimuat di Borneo Tribune,  Sabtu,10 November 2012]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar